Ada momen yang sering dirasakan para manajer baru tapi jarang dibicarakan terang-terangan.
Seorang anggota tim yang solid, mengerti pekerjaan yang ditanganinya sendiri dengan hasil yang nyata, kemudian dipromosikan perusahaan ke jabatan yang lebih tinggi. Tidak selalu terasa nyaman pada awalnya, karena semua kemampuan yang jadi andalan kini terasa kurang untuk mengatasi masalah yang timbul seiring dengan kenaikan jabatan.
Manajer baru tersebut kini bertanggung jawab atas pekerjaan orang lain dan tentunya hasil yang berada di luar kontrol sendiri. Tak lupa, juga menanggung beban ekspektasi dari pimpinan serta arahan dari anggota tim. Itu merupakan fase transisi yang tidak mudah, dan HR seharusnya menyadari masalah tersebut.
Ketika HR Melihat Gejala, Bukan Akarnya
Bayangkan ini: tim HR di PT Aren Berdikari Citra mendapat keluhan dari beberapa karyawan bahwa manajer mereka, sebut saja Reza, “sulit diajak berkomunikasi.” Pesannya tidak jelas, arahannya membingungkan, dan rapat tim yang dipimpinnya terasa tidak produktif.
HR kemudian langsung menyimpulkan: Reza butuh communication training. Ia pun dikirim ke program public speaking dan business writing. Dua hari pelatihan, sertifikat di tangan, selesai.
Ironisnya, situasinya tidak berubah tiga bulan kemudian.
Reza bukan tidak tahu cara berbicara atau menulis, melainkan kurang memahami kapan harus berbicara dan hal apa yang harus diputuskan sendiri atau didelegasikan. Dia tidak paham bedanya ketika harus memberi instruksi pada tim atau sebaiknya mendampingi mereka. Dia tidak punya ritme: kapan harus check-in, kapan harus memberi ruang, kapan harus menegur.
Ketika seseorang seperti Reza tidak tahu harus melakukan apa, mereka biasanya diam atau malah bereaksi berlebihan. Keduanya terlihat seperti “masalah komunikasi”, padahal bukan.
Fakta yang Sering Kami Lihat di Lapangan
Dalam banyak program leadership development yang kami jalankan di Talentbox, kami melihat pola ini muncul berulang kali.
Manajer yang dikategorikan “kurang perform” sering kali sebenarnya adalah manajer yang memimpin dari rasa takut. Takut dianggap tidak kompeten, takut tim tidak suka, takut mengambil keputusan yang salah. Alih-alih membuat arahan yang jelas, mereka menjadi reaktif dan hanya bergerak saat ada masalah, kurang melakukan langkah preventif.
Mereka juga sering tidak memahami ritme kerja, bahwa sebagai manajer ada waktu untuk terlibat, ada waktu untuk memberi jarak, dan juga ada siklus yang harus dijaga agar tim bisa berjalan dengan sehat.
Selain itu, salah satu hal yang paling sering disalahpahami adalah memahami apa itu feedback. Banyak manajer baru yang mengira feedback adalah momen untuk melampiaskan kekecewaan karena target tidak tercapai. Padahal feedback yang baik adalah percakapan yang membantu orang bertumbuh, bukan sidang atas hasil yang tidak sesuai harapan.
Hal Berbeda yang Kami Lakukan
Di Talentbox, kami tidak langsung melompat ke solusi sebelum benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.
Kami berbincang bersama divisi HR dan para manajernya untuk mengajukan pertanyaan yang mungkin belum pernah ditanyakan sebelumnya. Kami melihat bagaimana mereka sebenarnya bekerja sehari-hari, bukan hanya apa yang tertulis di job description mereka.
Berbekal informasi yang kami himpun, kami kemudian membantu merancang program leadership training yang menyentuh akar masalah yang tepat, bukan sekadar menambal gejala yang terlihat di permukaan.
Seorang manajer yang baik tidak dilahirkan, melainkan dibentuk dengan dukungan yang tepat, di waktu yang tepat.
Jika Anda sedang menghadapi situasi serupa dalam organisasi dan ingin bicara lebih lanjut, kami senang untuk mendengarnya. Hubungi kami melalui halaman kontak di website ini dan mari memulai dari percakapan yang jujur.





Leave a Reply